Deteksi Media

Seekor Harimau di Puncak Gunung … Singgasana Kekuasaan Yang Menelan Rakyatnya Sendiri ….

Seekor Harimau di Puncak Gunung … Singgasana Kekuasaan Yang Menelan Rakyatnya Sendiri ….

 

TAJUK OPINI
bay – Deteksi Media

Situbondo, (deteksimedia.id), edisi Jum’at, 12/12/2025, Hewan Harimau merupakan sosok binatang paling kuat yang mendominasi hutan, dikenal dengan Raja rimba, pemimpin sekaligus penjaga keseimbangan .
Namun dalam sebuah legenda yang berkembang dibalik pepohonan lebat, terdapat perjalanan yang berbeda,
Perjalanan seekor Harimau yang memilih naik kepuncak, ke atas bukit bukan untuk menjaga kawasannya, melainkan untuk menunjang berbagai raja hutan lain, ia menempatkan diri sebagai pendukung, sebagai pendorong, dan sebagai penopang kekuatan kekuatan besar yang bertarung memperebutkan Legitimasi

Keputusan harimau itu bukan tindakan tanpa kepentingan, Ia melihat peluang.
Dengan naik ke puncak ketinggian, ia dianggap memiliki posisi lebih tinggi, lebih strategis, serta lebih mendekati pusat – pusat pengaruh yang menentukan arah singgasana Kekuasaan di Hutan. Harimau ingin memastikan dirinya terlihat, dihitung, dan dipertimbangkan. Ia sadar, ketika berada di Puncak, ia dapat berhubungan langsung dengan para raja hutan yang silih berganti butuh DUKUNGAN

Pada masa awal, rakyat hutan, Kijang, rusa, kelinci, burung, dan berbagai makhluk hewan lainnya
Melihat langkah itu adalah sebagai sesuatu yang wajar ,
Mereka berharap memiliki PELINDUNG yang kuat di atas bukit, seseorang yang dapat menyuarakan kepentingan mereka .

Harimau seolah – olah menjadi Jempatan antara rakyat dan para penguasa Hutan. Banyak yang percaya, ketika ia berada pada posisi penting, kondisi hutan akan lebih baik

Akan tetapi perjalanan tidak selalu mulus, tidak sesuai harapan. Saat kedudukan mulai dikuasai, harimau yang dulu dianggap pembela rakyat kini berubah arah. Semua yang pernah dijanjikan tidak pernah turun kembali ke lembah tempat rakyat tinggal.
Bukit yang semula menjadi Simbol harapan berubah jadi benteng yang tidak dapat didekati. Harimau terlena, tenggelam dalam kenyamanan baru: kekuasaan

Ketika lapar, harimau tidak lagi memikirkan rakyatnya, ia tidak mempertimbangkan bagaimana para hewan kecil dibawah bukit berjuang untuk sekedar bertahan hidup. Ia justru memandang kelemahan rakyatnya sebagai peluang. Semakin rakyatnya terlihat lemah, semakin cepat ia berusaha menerkam dan memakannya

Rakyat hutan mulai sadar dan memahami, bahwa mereka tidak sedang berada dibawah Perlindungan, tetapi berada dalam ancaman Predator buas yang kini memiliki jangkauan lebih luas. Dari atas puncak bukit, harimau dapat mengawasi seluruh wilayah, ia dapat menentukan target dengan lebih mudah, ia dapat bergerak dengan leluasa tanpa hambatan, dan ketika rakyat hutan mengadu, tidak ada raja hutan lain yang ingin ikut campur. Harimau tersebut memiliki posisi yang terlalu nyaman untuk diganggu

Dalam kisah ini, harimau tidak berubah karena kekuasaan, ia hanya menunjukkan sifat aslinya ketika mendapatkan kesempatan. Puncak bukit bukan sekedar tempat tinggi, melainkan alat. Kedudukan bukan sekedar jabatan, melainkan ruang untuk menguasai lebih banyak. Rakyat hanyalah Sumber daya yang dapat dimanfaatkan ketika dibutuhkan, dan ditinggalkan saat tak lagi menguntungkan

Rusa dan kijang berserta hewan kecil lainnya mulai bertanya – tanya, apakah mereka terlalu percaya ?
Apakah mereka gagal melihat tanda – tanda ? Apakah mereka begitu lemah hingga bisa dan mudah dimangsa oleh pemimpin yang seharusnya melindungi? Jawaban dari pertanyaan itu tidak muncul dari luar, jawaban muncul dari pengalaman pahit yang terus berulang

Beberapa hewan kecil mulai berkumpul, membentuk kelompok kecil untuk saling melindungi. Mereka sadar, menghadapi harimau yang sudah duduk diatas bukit tidak mudah. Namun diam bukanlah Solusi, ketakutan juga tidak membawa perubahan. Satu-satunya hal yang dapat dilakukan adalah memperkuat diri, memperjelas suara, dan memastikan bahwa mereka tidak lagi memberikan ruang kepada Predator untuk menggunakan posisi tinggi demi kepentingan pribadi

Kisah ini menjadi cerminan bahwa kekuasaan tanpa akuntabilitas selalu memiliki potensi untuk berubah menjadi ancaman. Harimau yang lapar tidak akan memikirkan siapa pun kecuali dirinya. Ia tidak melihat rakyat sebagai bagian dari ekosistem yang harus dijaga, tetapi sebagai makanan empuk yang harus dikonsumsi untuk mempertahankan kedudukannya

Pada akhirnya, kisah ini bukan hanya tentang seekor harimau dan bukit ketinggian. Ini tentang bagaimana kekuasaan bekerja, bagaimana rakyat sering kali terpinggirkan ketika pemimpin tidak lagi memiliki prinsip, dan bagaimana kelengahan memberikan ruang bagi tirani untuk tumbuh. Hutan manapun, ketika pemimpinya berubah menjadi pemangsa, akan kehilangan keseimbangannya. Dan ketika keseimbangan hilang, maka rakyatlah yang pertama dan paling cepat merasakan akibatnya …..”

redaksi

Related Articles