Deteksi Media

Akhir Tahun Hujan Deras, dan Beton Instan: Mukjizat Pembangunan ala Penyerapan Anggaran

Akhir Tahun Hujan Deras, dan Beton Instan: Mukjizat Pembangunan ala Penyerapan Anggaran

 

Bay-Deteksi

Tapalkuda,(deteksimedia.id), Tanggal 20 Desember 2025, menjelang Nataru, coba tengok kalender, lalu tengok langit. Hujan turun tanpa basa – basi, seolah ingin mengingatkan kita bahwa musim ini namanya musim hujan, bukan musim Cor Beton.

Namun Indonesia memang negeri penuh keajaiban. Di saat logika memilih berteduh, proyek justru keluar kandang. Truk Molen melaju gagah melawan hujan. Aspal panas dihampar di tanah becek dengan penuh keyakinan. Selokan dibongkar tepat ketika air sedang mencari jalan pulang. Kalau ini Film, judulnya mungkin : Fast & Furious: Penyerapan Drift.

Negara ini percaya pada Beton Beriman :
Setiap akhir tahun, kita disuguhi ritual tahunan yang sakral; Proyek Roro Jonggrang APBD/APBN Edition. Dalam waktu singkat, dengan kondisi mustahil, pekerjaan harus selesai. Bukan karena bisa. Tapi karena harus.

Padahal anak Sarjana tehnic civil ( STM) bangunan pun tahu, Beton butuh 21 – 28 hari untuk matang sempurna. Aspal butuh panas, tanah butuh kering, dan Proyek butuh waktu. Tapi semua Teory itu runtuh oleh satu mantra paling ampuh dalam Birokrasi; “Yang Penting Terserap,” ….

Dengan keyakinan itu, beton pun dicor sambil mandi hujan. Aspal digelar ditempelkan ke lumpur dengan harapan, bukan tekhnik. Ini bukan teknik civil, ini teologi Pembangunan .

Selesai 100 Persen, Secara Spiritual;
Lalu datanglah keajaiban berikutnya ;
Laporan Progres. Fisik di lapangan mungkin baru separuh. Bahkan belum nyambung. Tapi di atas kertas, Proyek sudah selesai / rampung 100 Persen. Lengkap. Paripurna. Tinggal do’a penutup.

BAST ditandatangani dengan penuh keikhlasan. Dana cair tepat waktu. Semua pihak saling menepuk bahu, seolah baru menyelematkan negara dari kiamat Anggaran. Soal kualitas? Itu urusan January.

JALAN BARU, LUBANG BARU, HARAPAN LAMA :
Maka jangan heran jika awal 2026 nanti, jalan yang “Baru Dibangun” sudah kembali berlubang. Trotoar retak sebelum sempat diresmikan. Draenase mampet bahkan sebelum hujan berhenti.

Ini bukan kegagalan. Ini konsekuensi Logis dari Proyek yang dikerjakan dengan Nafsu, bukan nalar (skill).
Uang negara dipakai untuk membangun, tapi untuk mengejar tenggat administrasi. Pembangunan hanyalah ibarat efek samping semata

Angka Sakti Bernama Rp 199 juta ;
Coba perhatikan papan proyeknya, kalau tidak malu untuk dipasang. Anda akan sering melihat angkat cantik tapi mencurigakan : Rp 180 juta, Rp 195 juta, Rp 199 juta . Kenapa tidak bulat ? Karena Rp 200 juta itu horor .

Di bawah angka itu, proyek bisa penunjukkan langsung (PL).Tidak perlu tender. Tidak perlu kompetisi. Tidak perlu ribet. Cukup tunjuk “yang sudah paham” , dan pekerjaan dimulai meski hujan belum izin.

Maka proyek pun dipecah – pecah seperti Martabak. Satu lokasi jadi lima (5) paket. Semua kebagian. Semua bahagia. Kualitas ? Ya, itu nanti dibahas saat sudah rusak.

Mereka Tidak Membangun, Mereka Menghabiskan;
Masalahnya bukan pada hujan. Bukan pada Kontraktor atau Rekanan semata. Tapi pada mentalitas: Anggaran harus terserap habis, apa pun caranya .

Kalau tidak habis, tahun depan bisa dipotong. Maka lebih baik dibakar sekarang. Meski hasilnya cuma jalan berlubang dengan umur seminggu.

Ini bukan pembangunan berkelanjutan. Ini tradisi bakar duit tahunan yang dibungkus Jargon kemajuan.

Jangan Cuma Ngelus Dada ;
Jadi, kalau sore ini Anda melihat alat berat bekerja di tengah hujan deras, atau trotoar mendadak dibongkar padahal kemarin masih layak, ” Ah, beginilah Indonesia,”

Potret. Catat lokasinya. Perhatikan nilai kontraknya. Karena satu – satunya hal yang benar-benar bikin para pesulap Anggaran salah tingkah bukan Audit internal, bukan hujan, tapi mata publik yang mulai rajin memperhatikan. Negeri ini tidak kekurangan Uang. Yang kurang Cuma Rasa Malu …!!

redaksi

Related Articles