Ary/red – Deteksi
Bondowoso,(deteksimedia.id) – Penerapan sistem absensi digital melalui aplikasi Sistem Informasi Performa Personel (SIPP) kini tengah menjadi sorotan tajam di kalangan tenaga pendidik. Alih-alih meningkatkan kedisiplinan, kebijakan ini dinilai menjadi beban tambahan bagi para guru, terutama mereka yang memiliki jarak tempuh rumah ke sekolah yang cukup jauh.
Keluhan dari Lapangan
Sejumlah guru mengeluhkan ketatnya toleransi waktu dalam aplikasi SIPP yang tidak sinkron dengan realita infrastruktur dan kondisi lalu lintas. Bagi guru yang harus menempuh perjalanan lintas kota atau melewati daerah rawan macet, kewajiban melakukan clock-in di titik koordinat sekolah terasa seperti “kejar tayang” yang membahayakan keselamatan.
“Kami mendukung digitalisasi, tapi tolong lihat faktor geografis. Guru yang jarak rumahnya 30–40 km harus berangkat subuh demi menghindari keterlambatan di sistem. Jika telat sedikit karena ban bocor atau macet total, tunjangan langsung terpotong secara otomatis,” ujar seorang guru SD Negeri yang enggan disebutkan namanya.
Poin-Poin Utama Polemik
Ada beberapa alasan mengapa sistem ini dianggap menekan para guru:
Kaku Terhadap Kendala Teknis: Aplikasi seringkali mengalami error atau sulit membaca sinyal GPS di daerah terpencil, namun sanksi pemotongan tetap berjalan otomatis.
Risiko Keselamatan: Tekanan untuk sampai tepat waktu demi mengejar absen digital memicu perilaku berkendara yang terburu-buru di jalan raya.
Abaikan Aspek Kualitatif: Guru merasa penilaian kinerja kini terlalu fokus pada kehadiran fisik (menit per menit) daripada kualitas pengajaran di dalam kelas.
Tuntutan Evaluasi
Organisasi profesi guru mendesak pemerintah daerah dan dinas terkait untuk segera mengevaluasi kebijakan ini. Beberapa poin tuntutan yang muncul antara lain:
Pemberian Dispensasi Jarak: Adanya kebijakan khusus bagi guru dengan jarak tempuh tertentu.
Sinkronisasi Ulang: Memperbaiki sistem agar tidak langsung memotong tunjangan jika terdapat kendala teknis atau keadaan kahar (force majeure).
Fokus pada Output: Mengalihkan indikator performa pada hasil belajar siswa, bukan sekadar durasi keberadaan di lokasi.
“Digitalisasi harusnya memudahkan, bukan justru menciptakan tekanan psikologis bagi guru sebelum mereka mulai mengajar di kelas.”
Pihak dinas pendidikan setempat menyatakan bahwa mereka sedang mengumpulkan data terkait kendala teknis ini. Namun, hingga berita ini diturunkan, belum ada keputusan resmi mengenai revisi aturan penggunaan SIPP bagi guru yang berdomisili jauh. Semoga dengan diturunkannya berita ini bisa dijadikan bahan evaluasi kedepannya agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan terhadap Tenaga Pendidik di Kabupaten Bondowoso Khususnya.




