Tim – Deteksi
Situbondo(deteksimedia.id), edisi Sabtu, 17 January 2026, _____ Dunia pendidikan kembali ditampar oleh skandal memuakkan. Seorang oknum guru berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) berinisial WR, diduga kuat telah meniti karier puluhan tahun di atas tumpukan kebohongan.
Bermodalkan selembar kertas bertajuk Ijazah Strata – 1 (S1), yang di duga palsu, oknum tersebut berhasil mengelabui negara, menguras anggaran rakyat melalui gaji, hingga akhirnya menikmati masa tua dengan dana pensiun yang “Haram” secara hukum.
Narasi bahwa ‘Pensiun adalah masa tenang’, nampaknya akan sirna. Secara hukum, jubah pensiun bukanlah tameng kekebalan. Jika terbukti Ijazah tersebut didapat tanpa pernah menginjakkan kaki dibangku kuliah, sang guru bukan menghadapi jeruji besi Pasal 263 KUHP tentang pemalsuan, tetapi juga ancaman pengembalian paksa seluruh uang negara yang telah ditelannya selama puluhan tahun berkarya palsu.
Tragedi ini menjadi lebih kelam jika mau menjemput sebelum hukum mengetuk pintu. Meski tuntutan pidana Gugur di liang lahat, dosa administratif tetap membayangi keluarga yang ditinggalkan. Negara tidak akan membiarkan rupiahnya mengalir ke kantong ahli waris jika dasar hukum kepegawaiannya cacat permanen. SK pensiun yang menjadi tumpuan hidup sang istri terancam di Anulir.
Menyisakan sanksi sosial dan ekonomi yang pedih.
Kejadian duagaan ini terjadi dipusaran wilayah pendidikan Suboh – Situbondo, inisial WR, SH, ABd, dan ketiga inisial ini sudah memasuki masa purna beberapa tahun lalu, bahkan inisial SH sudah meninggal dunia setelah memasuki masa pensiun.
Sebenarnya pengungkapan dari tiga inisial juga merupakan pintu masuk untuk membongkar jaringan dugaan Ijazah palsu yang bergentayangan di wilayah Situbondo.
Ini bukan sekadar soal administratif. Ini adalah penghinaan terhadap ribuan Mahasiswa yang memeras keringat untuk lulus dengan jujur. Kasus ini menjadi Alarm keras bagi pemerintah, jangan biarkan para pencuri hak rakyat bersembunyi di balik seragam cokelat hingga masa tua, sementara kualitas pendidikan anak bangsa menjadi korbannya.




