Rahmadi – Deteksi
JEMBER,(deteksimedia.id ) – Sabtu/24//2026, pada akhir Januari 2026, suasana SMPN 1 Gumukmas Jember tampak berbeda dari biasanya. Tidak ada deru hafalan rumus yang kaku yang ada justru keriuhan kreatif dan semangat kesiapsiagaan yang membara.
Selama dua hari, Jumat (23/1/2026) hingga Sabtu (24/1/2026), sekolah ini bertransformasi menjadi laboratorium hidup mitigasi bencana melalui perhelatan Festival Kesiapsiagaan Sekolah.
Kegiatan ini merupakan buah manis dari kolaborasi strategis antara Japanese Red Cross Society (JRCS) dan PMI Kabupaten Jember dalam payung program School Community Resilience (SCR). Tujuannya mulia: memastikan bahwa setiap siswa tidak hanya cerdas secara akademik, tapi juga tangguh dan cekatan saat alam sedang tidak bersahabat.
Festival ini membuktikan bahwa edukasi bencana tidak harus membosankan. Pada hari pertama, kreativitas siswa meledak dalam berbagai kompetisi yang menantang nalar dan empati. Di satu sudut, siswa sibuk merakit prototipe alat peringatan dini sederhana dari bahan lokal sebuah solusi jenius yang membuktikan bahwa keselamatan tidak selalu harus mahal.
Tak kalah menarik, kompetisi Desain Tas Siaga Bencana (TSB) menjadi ajang uji ketangkasan. Para siswa harus memilah dengan cepat dan tepat barang apa saja yang krusial dibawa saat detik-detik evakuasi. Di sudut lain, dinding sekolah dihiasi oleh poster-poster infografis hasil karya orisinal siswa, yang menerjemahkan prosedur penyelamatan diri yang rumit menjadi visual yang mudah dipahami oleh siapa saja.
Puncak keseruan terjadi saat alarm simulasi berbunyi. Mengambil skenario gempa bumi ancaman nyata di wilayah pesisir Jember seluruh warga sekolah mempraktikkan prosedur perlindungan diri: Drop, Cover, and Hold On. Tak ada kepanikan yang tak beraturan; yang ada adalah evakuasi yang terorganisir menuju titik kumpul.
Menutup rangkaian acara dengan manis, sebuah pentas drama pendek digelar. Melalui seni peran, para siswa berhasil menyentuh sisi emosional penonton mengenai pentingnya ketenangan dan solidaritas saat bencana melanda. Drama ini menjadi pengingat bahwa dalam situasi darurat, musuh terbesar bukanlah bencana itu sendiri, melainkan rasa takut dan egoisme.
Muhammad Sofyan Tsauri, Waka Kesiswaan sekaligus Ketua Panitia, mengungkapkan rasa bangganya atas antusiasme luar biasa dari para peserta.
“Kami ingin membentuk karakter siswa yang tanggap, bukan gagap. Melihat mereka begitu bersemangat dalam simulasi dan lomba, kami yakin nilai-nilai kesiapsiagaan ini akan mereka bawa hingga ke rumah masing-masing,” ujarnya.
Apresiasi serupa datang dari Aep Ganda Permana, Wakil Ketua PMI Kabupaten Jember. Beliau menekankan bahwa model pendidikan yang diterapkan di SMPN 1 Gumukmas adalah standar emas bagi Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). Menurutnya, keterlibatan emosional melalui festival jauh lebih membekas di ingatan siswa dibandingkan sekadar teori di dalam kelas.
Dengan berakhirnya festival ini, SMPN 1 Gumukmas bukan sekadar sekolah yang pernah mengadakan acara, melainkan telah mengukuhkan posisinya sebagai pionir sekolah siaga bencana di Kabupaten Jember.
Harapannya, semangat yang lahir dari sekolah ini mampu menular ke sekolah-sekolah lain, menciptakan masyarakat yang tidak hanya pasrah pada alam, tetapi siap berdampingan dengannya dalam harmoni dan kesiapsiagaan.




