Deteksi Media

Mengungkap Kasus DBD di Bondowoso capai 377 Warga, Tiga Meninggal

Mengungkap Kasus DBD di Bondowoso capai 377 Warga, Tiga Meninggal

 

Hery/red – Deteksi

Bondowoso:(deteksimedia.id) – Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Bondowoso hingga November 2025 tercatat mencapai 377 kasus dengan tiga diantaranya meninggal dunia.

Meski angka kematian meningkat dibanding tahun lalu, jumlah kasus secara keseluruhan menunjukkan penurunan signifikan.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Bondowoso, dr. Habib Muzakki, menjelaskan bahwa kasus tahun ini jauh lebih rendah dibanding 2024.

“Pada 2024 data total ada 955 kasus dengan dua korban meninggal. Tahun 2025 turun menjadi 377 kasus, meski jumlah kematian menjadi tiga orang,” ujarnya saat dikonfirmasi, Kamis (27/11/2025).

Distribusi kasus menunjukkan wilayah kota menjadi episentrum penyebaran DBD. Di kawasan Kota Kulon tercatat sebagai kawasan dengan kasus tertinggi, yakni 36 kasus, disusul Kecamatan Wringin dan Kecamatan Wonosari.
” Paling rendah Kecamatan Ijen,” tuturnya.

Meski demikian, rendahnya kasus di Ijen tidak selalu menggambarkan kondisi lapangan. dr. Habib menegaskan bahwa data kasus mengacu pada alamat KTP pasien, sehingga perlu dilakukan penyelidikan epidemiologi (PE) untuk memastikan tempat paparan sebenarnya.

“Belum tentu kasus itu terjadi di Ijen. Banyak dari mereka yang tertular di luar wilayah. Hasil PE biasanya menunjukkan paparan terjadi di tempat domisili atau aktivitas sehari-hari,” jelasnya.
Tren peningkatan kasus terjadi sejak memasuki musim hujan.

“Lonjakan terbanyak itu mulai Oktober–November. Memang di musim hujan biasanya kasus DBD mencapai puncaknya,” kata dr. Habib.

Ia menjelaskan bahwa penyakit tropis seperti DBD dan Chikungunya memiliki pola siklus tiga tahunan atau lima tahunan, sehingga pemantauan harus dilakukan secara berkelanjutan.

dr. Habib mengungkapkan bahwa faktor utama kematian pasien DBD adalah shock atau hypovolemic shock, bukan sekadar penurunan trombosit.

“DB itu bahaya ketika terjadi shock, terutama karena dehidrasi. Itu yang menyebabkan kematian,” tegasnya.

Dalam setiap PE, petugas kesehatan melakukan sejumlah pemeriksaan, termasuk pemeriksaan jentik nyamuk di lingkungan pasien. Langkah ini dinilai penting untuk memastikan sumber penyebaran dan menentukan strategi intervensi.

Dinkes Bondowoso mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kesadaran terhadap pola hidup bersih dan gerakan 3M dan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) terutama saat curah hujan mulai meningkat.

redaksi

Related Articles