Wan – Deteksi
Tulungagung(deteksimedia.id) – Industri kosmetik tanah air mengalami pertumbuhan signifikan dalam satu dekade terakhir. Perkembangan itu tidak lepas dari peran perusahaan manufaktur sebagai penyokong utama.
Siapa sangka salah satu industri manufaktur yang menerapkan sistem maklon atau layanan produksi barang atas pesanan pemilik merek justru tumbuh pesat dari Desa/Kecamatan Rejotangan, Tulungagung.
Perusahaan Mash Moshem yang dirikan Scorpi Filia tersebut telah memproduksi ribuan merek kosmetik dari dalam dan luar negeri. Pendirian pabrik di desa menjadi salah satu impiannya untuk memberikan dampak positif terhadap kota kelahiran.
“Karena saya juga dulu kelahiran dan putra daerah (Tulungagung) sini. Jadi make impact-nya ingin ke wilayah ini juga,” kata Filia, Minggu (25/1/2026).
Meskipun jauh dari ibu kota provinsi, tidak menjadikan Filia kesulitan untuk membangkitkan industri kosmetik. Menurutnya, berada di desa justru menjadi keuntungan tersendiri, sebab ongkos produksinya bisa ditekan untuk mengejar harga pokok penjualan (HPP).
“Tulungagung ini wilayah yang masih punya pengembangan, terutama juga menyangkut kita ini kalau maklon itu kan kita harus punya HPP yang paling bagus ya. Supaya klien-klien kita ini punya nilai jual yang bisa bersaing di luar gitu,” jelasnya.
Dari sisi tenaga kerja, UMK Tulungagung cenderung lebih terjangkau dan berada pada level tengah di wilayah Jawa Timur.
“UMK Tulungagung Rp 2,7 juta, cukup bagus,” jelasnya.
Saat ini, Filia telah mempekerjakan 300 karyawan, 150 orang di antaranya menjalankan roda produksi di pabriknya Tulungagung. “Di pabrik ini mayoritas warga sekitar pekerjanya,” jelasnya.
Niat baik untuk tumbuh bersama tanah kelahiran tidak semudah membalikkan telapak tangan. Fillia harus berjuang keras untuk membentuk tim yang solid dan melakukan modernisasi peralatan sehingga mampu bersaing dengan manufaktur lain di tanah air.
“Jadi dari sisi waktu kami punya efisien di mesin, kita punya SDM juga yang kompeten, terus kemudian didukung juga dari sisi UMK dan tim yang juga mendukung, menurut saya pasti bisa kompetitif,” jelasnya.
Hingga kini, perusahaan maklon kosmetik tersebut telah bekerja sama dengan 1.700 merk dari dalam dan luar negeri. Sementara itu, jumlah varian yang diproduksi telah mencapai lebih dari 7.000.
“Ada beberapa klien kita juga klien luar negeri. Jadi secara standar meskipun pabriknya di Tulungagung, di Rejotangan, tapi standar kita standar internasional,” imbuhnya.
Filia mengaku tren bisnis secara maklon memiliki potensi pertumbuhan yang bagus. Dengan sistem maklon pihaknya memberikan kesempatan pelaku bisnis untuk tumbuh dengan biaya yang lebih tidak besar.
“Modal sekitar Rp 10 jutaan sudah bisa bikin produk dengan merek sendiri, itu sudah termasuk perizinan, tidak perlu bikin pabrik,” katanya.
Menurutnya tidak sekadar menyediakan jasa produksi kosmetik, pihaknya juga memberikan pendampingan kepada kliennya sehingga mampu tumbuh bersama.
“Saya senang kalau klien kami itu berhasil,” imbuhnya.
Ia mengatakan, industri manufaktur miliknya kini mampu memproduksi berbagai produk body care, makeup, baby care dan man’s product.
Menurutnya selama lima tahun terakhir industri kosmetik tumbuh secara baik dan cenderung stabil. “Jadi tidak turun tapi cenderung juga naik. Jadi peluangnya sangat sangat besar dan terutama untuk di Indonesia sendiri itu tidak hanya skin care ya,” kata Filia.
Pesohor Helmy Yahya menyebut, industri kosmetik tanah air masih berpotensi tumbuh secara pesat. Sistem maklin menjadi opsi menarik untuk mengembangkan bisnis.
“Jadi kalau brand-brand besar itu rata-rata enggak pernah melakukan produksi sendiri,” kata Helmy.
Dengan sistem maklon, maka pengusaha kosmetik tidak harus direpotkan dengan urusan perizinan hingga produksi. Namun mereka cukup fokus pada penjualan produk ke konsumen.
“Nah, kenapa tidak diserahkan kepada perusahaan yang memang khusus dalam bidang produksi. Yang punya ahlinya, yang sudah punya researcher-nya, yang bisa bantuin bikin brand-nya,” ujarnya.




