Bay-Deteksi
Situbondo(deteksimedia.id) edisi Sabtu, 04 April 2026 ____ Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dispendikbud) Kabupaten Situbondo mengungkap fakta memprihatinkan mengenai tingginya angka anak tidak sekolah (ATS) di Kota Santri. Berdasarkan data Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) per April 2026, tercatat sebanyak 5.828 anak di Situbondo masuk katagori putus sekolah.
Detail Penyebab Putus Sekolah:
Menurut Kabid Dikmas Dispendikbud Situbondo, Imam Sujuko, angka tersebut tidak hanya mencakup siswa yang berhenti di tengah jalan (drop out), tetapi terbagi menjadi beberapa katagori:
1. Lulus Tapi Tidak Melanjutkan: Ini menjadi tantangan terbesar. Data menunjukkan sekitar 352 lulusan SD tidak melanjutkan ke SMP, dan 633 lulusan SMP tidak melanjutkan ke SMA.
2. Faktor Ekonomi & Pernikahan Dini: Di wilayah pedesaan terpencil, faktor tradisi pernikahan dini menjadi pemicu utama. Anak perempuan seringkali dinikahkan sesaat setelah lulus SD.
3. Anak Tidak Pernah Sekolah: Anak yang telah berusia 13 tahun ke atas namun belum pernah menempuh pendidikan formal.
Upaya Pemerintah:
Dispendikbud menegaskan bahwa untuk tahun 2025 – 2026, putus sekolah akibat drop out (DO) di tengah jalan karena faktor ekonomi sudah mulai diatasi dengan penyaluran beasiswa.
Pemerintah kini berfokus pada pendekatan kejar paket untuk anak – anak yang sudah terlanjur putus sekolah dan mengoptimalkan peran operator desa untuk memperbarui data.
Data ini menunjukkan tantangan serius bagi Pemkab Situbondo untuk meningkatkan angka rata – rata lama sekolah yang masih rendah, di mana banyak anak putus sekolah pada usia transisi ke jenjang SMP .
Pernyataan mengenai 5.828 anak putus sekolah di Situbondo merujuk pada data Pusdatin yang disampaikan oleh Dispendikbud Situbondo melalui Kabid Dikmas, Imam Sujoko, pada 02 April 2026. Angka ini adalah data akumulatif (total) yang mencakup anak yang putus di tengah jalan, lulus tapi tidak melanjutkan, serta tidak pernah sekolah, dengan fokus penanganan pada siswa di pelosok.
Editor : Redaksi




