Oleh : Bay
Biro Tapalkuda deteksimedia.id
“EDUCATION is the most powerful weapon which you can use to change the world,” begitulah yang terngiang – ngiang dari lisan Nelson Mandela, sosok tokoh perjuangan anti – apartheid dan presiden kulit hitam pertama Africa Selatan.
Di meja – meja birokrasi, angka 10.000 mungkin hanya dianggap sebagai recehan pengisi kotak amal atau parkir dua jam di Mall ibu kota. Namun, di Nusa Tenggara Timur (NTT), angka itu berubah menjadi “tali gantung” bagi seorang anak berusia 10 tahun. Ia memilih mengakhiri hidupnya hanya karena tak mampu membeli Selembar kertas dan Sebatang Pena.
Ini bukan sekedar berita duka, ini adalah tamparan keras bagi wajah “Negara Kesejahteraan” yang sering kita banggakan di forum – forum internasional.
KEMISKINAN BUKAN ANGKA, TAPI NYAWA
Saat para pemangku kebijakan sibuk memoles angka pertumbuhan ekonomi dan mendiskusikan megaproyek bernilai triliunan, seorang anak di pelosok negeri harus bertaruh nyawa demi alat tulis.
Pena, yang seharusnya menjadi alat untuk merajut masa depan, justru menjadi simbol kegagalan sistemik. Bagaimana mungkin sebuah negara yang mengamanatkan 20% APBN untuk pendidikan bisa kecolongan hingga ke titik di mana seorang siswa merasa hidupnya lebih murah daripada harga sebatang pena?
IRONI “NEGARA HADIR”
Kita sering mendengar “JARGON NEGARA HADIR”. Namun, di dalam kasus ini, negara justru absen di saat yang paling krusial.
* Di mana fungsi pengawasan sekolah?
* Di mana jaring pengaman sosial yang katanya menyasar rakyat kecil?
* Di mana empati para pemangku kuasa saat ketimpangan pendidikan makin menganga?
Kematian bocah di NTT ini adalah bukti nyata runtuhnya martabat kemanusiaan kita. Kita telah membangun gedung – gedung tinggi, namun membiarkan fondasi masa depan kita, anak – anak , hancur karena kemiskinan ekstrem yang dianggap “BIASA”
Menyentil Nurani Penguasa
Kepada Anda yang duduk di kursi empuk kekuasaan, Berhentilah bersembunyi dibalik tumpukan data dan laporan administrasi. Kematian ini adalah raport merah yang tertulis dengan tinta darah.
Jangan lagi bicara soal ‘Indonesia Emas 2045’ jika hari ini, di tahun 2026, masih ada anak yang harus mati karena tak sanggup membeli alat tulis. Sebatang Pena yang tak terbeli itu kini telah menuliskan sejarah paling kelam dan menyedihkan dalam dunia pendidikan kita : Bahwa Negara ini Ternyata Sangat Miskin, bukan miskin harta, tapi miskin hati Nurani.
“Seorang Anak, Sebuah Negeri, dan Mimpi Yang Tak Pernah Sampai”




